Beskap adalah salah satu busana adat pria Jawa yang paling dikenal dan sering dikenakan dalam upacara resmi, pernikahan, hingga acara kenegaraan. Berbeda dengan pakaian harian seperti surjan lurik, beskap hadir sebagai busana formal (busana kebesaran) yang menampilkan kesan gagah, anggun, berwibawa, dan sarat dengan tata norma adat.
Artikel ini membahas pengertian dan ciri khas beskap, sejarah singkatnya, ragam model yang berkembang, serta perbedaan gaya Surakarta (Solo) dan Yogyakarta (Jogja).
1. Pengertian dan Ciri Khas Beskap
Secara fisik, beskap adalah jas berkancing berbahan kain polosâbiasanya hitam, putih, krem, atau warna keemasanâdengan kerah tegak dan tanpa lipatan kerah lebar seperti jas Barat.
- Kerah tegak (jejer): Kerah melingkar di leher tanpa lipatan jas, menyerupai model mandarin collar.
- Kancing asimetris: Kancing beskap dipasang miring dari leher menuju ketiak atau pinggang sebelah kanan, bukan lurus di tengah seperti jas modern.
- Potongan belakang (coakan keris): Bagian belakang bawah beskap dipotong melengkung agar keris yang diselipkan di pinggang belakang dapat terpasang rapi tanpa terhalang kain jas.
2. Sejarah Singkat Beskap Jawa
A. Asal-usul Nama dan Akulturasi
Asal-usul istilah beskap sering dikaitkan dengan pengaruh bahasa Belanda dan bentuk jas pendek yang berkembang pada masa kolonial. Penggunaan beskap berkembang pesat pada akhir abad ke-18 hingga abad ke-19, setelah Perjanjian Giyanti (1755) membagi Kerajaan Mataram Islam menjadi Kasultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta.
Busana ini merupakan hasil akulturasi budaya: nilai-nilai busana tradisional Mataram berpadu dengan pengaruh seragam militer dan pemerintahan Eropa yang rapi, berstruktur tegas, dan formal.
B. Perkembangan di Lingkungan Keraton
Pada awalnya, beskap dikembangkan di lingkungan keraton sebagai pakaian dinas dan busana resmi para bangsawan, abdi dalem, serta kerabat kerajaan. Seiring waktu, beskap digunakan lebih luas oleh masyarakat sebagai busana resmi untuk resepsi pernikahan, hajatan adat, dan peringatan hari besar.
3. Ragam Model Beskap Jawa
Dalam khazanah busana Jawa, beskap berkembang menjadi beberapa varian sesuai fungsi, asal daerah, dan tingkat formalitasnya.
1. Beskap Solo (Gaya Standar atau Kakap)
Model beskap klasik dengan potongan kancing miring dari leher ke arah samping kanan. Bagian depan tertutup penuh hingga leher dan menjadi salah satu standar busana formal di wilayah Solo.
2. Beskap Landung
Beskap dengan bagian bawah yang dibuat lebih panjang hingga menutupi pinggul. Bentuknya menyerupai tunik atau jas panjang Eropa dan memberikan kesan klasik serta formal.
3. Beskap Langenharjan
Model ini berkembang pada masa Kasunanan Surakarta dan sering dikaitkan dengan Pesanggrahan Langenharjo. Ciri utamanya adalah bagian depan dada berbentuk huruf V, dikenakan bersama kemeja putih berkerah tegak, dasi kupu-kupu, dan rompi. Langenharjan biasanya digunakan untuk pesta malam, acara resmi, atau upacara pengantin Jawa gaya Solo.
4. Beskap Hewes
Beskap Hewes merupakan varian gaya Yogyakarta yang memiliki bagian depan terbuka sehingga kemeja putih dan dasi kupu-kupu di dalamnya terlihat. Model ini sering dikenakan oleh calon pengantin pria gaya Jogja atau untuk acara resmi tertentu.
5. Beskap Sikepan
Beskap Sikepan dirancang dengan bagian dada yang terbuka atau tidak dikancingkan seluruhnya sehingga kain dalaman seperti rompi atau kutangan berwarna kontras dapat terlihat. Model ini sering digunakan oleh bangsawan keraton atau pengantin.
4. Perbedaan Utama Beskap Gaya Solo dan Yogyakarta
Sekilas kedua gaya ini terlihat serupa, tetapi terdapat perbedaan teknis dan filosofis dalam busana formal pria Surakarta dan Yogyakarta.
| Aspek Perbedaan | Beskap Gaya Solo (Surakarta) | Beskap Gaya Yogyakarta (Jogja) |
|---|---|---|
| Pakaian formal utama | Beskap Solo dengan kancing miring atau Beskap Langenharjan. | Surjan Takwa, Beskap Hewes, atau Beskap Sikepan dalam gaya klasik Mataraman Jogja. |
| Bentuk lapel atau kancing | Menyerong tajam ke arah kanan bawah, dengan kancing bertumpuk atau tangkeplakan. | Cenderung lebih simetris atau menggunakan deretan kancing khusus seperti pada Surjan Takwa. |
| Model dada terbuka | Langenharjan memiliki bukaan kerah V yang dipadukan dengan kemeja putih, dasi kupu-kupu, dan rompi. | Hewes memiliki bukaan yang lebih menyiku atau lurus, dipadukan dengan kemeja berkerah tegak dan dasi kupu-kupu. |
| Pasangan blangkon | Blangkon Solo memiliki bagian belakang datar atau gepeng (papat atau trepes). | Blangkon Jogja memiliki tonjolan bulat di bagian belakang yang disebut mondholan. |
| Lipatan kain jarik (wiron) | Tepi putih kain atau seretan dilipat ke dalam dan disembunyikan. | Tepi putih kain atau seretan diperlihatkan pada lipatan terdepan. |
| Gaya keris | Keris Solo menggunakan warangka seperti Ladrang atau Gayaman Solo dan diselipkan miring ke kanan. | Keris Jogja menggunakan warangka seperti Branggah atau Gayaman Jogja dengan sudut penyelipan khas Jogja. |
5. Tata Cara Penggunaan Beskap yang Benar
Penggunaan beskap membutuhkan ketelitian agar penampilan terlihat rapi dan proporsional sesuai tata busana adat (pakem).
- Dalaman: Kenakan kaus singlet putih tebal atau kemeja khusus jika memakai model Langenharjan atau Hewes.
- Bawahan (jarik): Gunakan kain batik atau jarik yang telah dilipat (diwiron). Panjang jarik sebaiknya jatuh tepat di atas mata kaki.
- Sabuk dan stagen: Kencangkan jarik dengan stagen, lalu lapisi dengan sabukwala atau eblek dan timang, yaitu gesper hias bermotif.
- Memakai beskap: Masukkan lengan, lalu pasang kancing dari bagian dalam hingga kancing luar.
- Menyelipkan keris: Masukkan keris pada selipan sabuk bagian belakang (nyengkelit keris) dengan posisi condong ke kanan sesuai pakem keraton masing-masing.
- Aksesori: Kenakan blangkon yang sesuai dengan gaya beskap, serta selop sebagai alas kaki khas Jawa.
6. Kesimpulan
Beskap Jawa menunjukkan tingginya nilai estetika, ketelitian, dan kerapian dalam tata busana Nusantara. Melalui perpaduan desain lokal dan pengaruh Eropa, beskap berkembang menjadi lambang kehormatan, ketegasan, dan wibawa bagi pria Jawa.
Baik gaya Solo maupun Jogja memiliki keunikan dan pakem tersendiri. Perbedaan tersebut mencerminkan keragaman warisan budaya dari bekas wilayah Mataram Islam yang terus dilestarikan hingga kini.